2.
Jelaskan
Karakteristik matematika sebagai ilmu yang terstruktur, dan sebutkan
unsur-unsur dalam struktur matematika!
Jawaban:
Matematika Adalah Ilmu Terstruktur
Matematika merupakan ilmu terstruktur
yang terorganisasikan. Hal ini karena
matematika dimulai dari unsur yang
tidak didefinisikan, kemudian unsur yang
didefinisikan ke aksioma / postulat dan
akhirnya pada teorema. Konsep-konsep
amtematika tersusun secara hierarkis,
terstruktur, logis, dan sistimatis mulai dari konsep
yang paling sederhana sampai pada
konsep yang paling kompleks. Oleh karena itu untuk
mempelajari matematika, konsep
sebelumnya yang menjadi prasyarat, harus benar-benar
dikuasai agar dapat memahami topik atau
konsep selanjutnya.
Dalam pembelajaran matematika guru
seharusnya menyiapkan kondisi siswanya
agar mampu menguasai konsep-konsep yang
akan dipelajari mulai dari yang sederhana
sampai
yang lebih kompleks.
Unsur-unsur dalam struktur matematika
adalah sebagai berikut :
a. Unsur-unsur yang tidak didefinisikan
Misal : titik, garis, lengkungan,
bidang, bilangan dll.
Unsur-unsur
ini ada, tetapi kita tidak dapat mendefinisikannya.
b. Unsur-unsur yang didefinisikan
Dari unsur-unsur yang tidak
didefinisikan maka terbentuk unsur-unsur yang
didefinisikan.
Misal : sudut, persegi panjang,
segitiga, balok, lengkungan tertutup sederhana,
bilangan
ganjil, pecahan desimal, FPB dan KPK dll.
c. Aksioma dan postulat
Dari unsur-unsur yang tidak
didefinisikan dan unsur-unsur yang didefinisikan dapat
dibuat asumsi-asumsi yang dikenal
dengan aksioma atau postulat.
Misal : ~ Melalui 2 titik sembarang
hanya dapat dibuat sebuah garis.
~ Semua sudut siku-siku satu dengan
lainnya sama besar.
~ Melalui sebuah titik hanya dapat
dibuat sebuah garis yang tegak lurus ke
sebuah garis yang lain.
~ Sebuah segitiga tumpul hanya
mempunyai sebuah sudut yang lebih besar
dari 900.
Aksioma tidak perlu dibuktikan
kebenarannya tetapi dapat diterima kebenarannya
berdasarkan
pemikiran yang logis.
d. Dalil atau Teorema
Dari unsur-unsur yang tidak
didefinisikan dan aksioma maka disusun teorema-teorema
atau dalil-dalil yang kebenarannya
harus dibuktikan dengan cara deduktif.
Misal : ~ Jumlah 2 bilangan ganjil
adalah genap
~ Jumlah ketiga sudut pada sebuah
segitiga sama dengan 1800
~ Jumlah kuadrat sisi siku-siku pada
sebuah segitiga siku-siku sama dengan
Kuadrat
sisi miringnya.
3.
Apakah definisi Aksioma, Postulat, Dalil, dan
Teorema!
Jawaban:
Aksioma itu
adalah fakta-fakta fundamental dari matematika yang diyakini kebenarannya tanpa
perlu dibuktikan. Jadi bisa dikatakan bahwa aksioma merupakan Iman di
matematika.
Postulat: suatu
pernyataan yang tidak perlu dibuktikan keabsahannya lagi, yang bernilai sama
dengan suatu teorema.
Teorema/dalil/formula/rumus:
pernyataan yang dapat diterima setelah dibuktikan. Teorema dapat berbentuk
sederhana atau rumit.
5.
Jelaskan
4 tahap perkembangan kognitif dari individu menurut Piaget!
Jawaban:
1.
Tahap Sensori-Motor (0-2)
Inteligensi
sensori-motor dipandang sebagai inteligensi praktis (practical intelligence),
yang berfaedah untuk belajar berbuat terhadap lingkungannya sebelum mampu
berfikir mengenai apa yang sedang ia perbuat. Inteligensi individu pada tahap
ini masih bersifat primitif, namun merupakan inteligensi dasar yang amat
berarti untuk menjadi fundasi tipe-tipe inteligensi tertentu yang akan dimiliki
anak kelak. Sebelum usia 18 bulan, anak belum mengenal object permanence.
Artinya, benda apapun yang tidak ia lihat, tidak ia sentuh, atau tidak ia
dengar dianggap tidak ada meskipun sesungguhnya benda itu ada. Dalam rentang 18
– 24 bulan barulah kemampuan object permanence anak tersebut muncul secara
bertahap dan sistematis.
7.
Sebutkan
dan jelaskan teori belajar aliran psikologi tingkah laku!
Jawaban:
1.
Aliran Psikologi Tingkah Laku
Sebelum
membahas psikologi tingkah laku alangkah lebih baik jika kita lebih dahulu
membahas tentang psikologi belajar mengajar,yang sifatnya masih umum.
Psikologi belajar atau disebut pula dengan teori belajar adalah teori yang
mempelajari perkembangan intelekual (mental) siswa. didalamnya terdiri dari dua
hal, yaitu:
1.
uraian
tentang apa yang terjadi dan diharapkan terjadi pada intelektual anak
2.
uraian
tentang kegiatan intelektual anak mengenai hal-hal yang bisa dipikirkan pada
usia tertentu
Psikologi mengajar atau teori mengajar berisi tentang
petunjuk bagaimana semestinya mengajar siswa pada usia tertentu,bila ia sudah
siap belajar. jadi pada teori mengajar terdapat prosedur dan tujuan mengajar.
Jadi dalam proses belajar siswa merupakan subjek dan bukan
objek, selanjutnya peristiwa belajar dan mengajar ini sesuai dengan istilah
dalam kurikulum akan disebut pembelajaran, yang berkonotasi pada proses kinerja
yang sinergi antara setiap komponennya.
2. Aliran Psikologi Tingkah Laku
Menurut Para Ahli
A. Teori Thorndike
Edward l. Thorndike (1874-1949) mengemukan beberapa hukum
belajar yang dikenal dengan sebutan law of effect. Menurut hukum ini
belajar akan lebih berhasil bila respon murid terhadap suatu stimulus segera
diikuti dengan rasa senang atau kepuasan
teori belajar stimulus respon yang dikemukakan oleh
thorndike ini disebut juga koneksionisme,teori ini mengatakan bahwa pada
hakikatnya belajar merupakan proses pembentukan hubungan antara stimulus dan
respon. Terdapat beberapa dalil:
a. Hukum Kesiapan (Law Of Readiness)
Yaitu menerangkan bagaimana kesiapan seorang anak dalam
melakukan suatu kegiatan. Seorang anak yang mempunyai kecenderungan untuk
bertindak atau melakukan kegiatan tertentu dan kemudian dia benar melakukan
kegiatan tersebut, maka tindakannya akan melahirkan kepuasan bagi dirinya.
Tindakan-tindakan lain yang dia lakukan tidak menimbulkan kepuasan bagi
dirinya.
b. Hukum Latihan (Law Of Exercise) dan
Hukum Akibat (Law Of Effect).
Hukum latihan menyatakan bahwa jika hubungan stimulus respon
sering terjadi, akibatnya hubungan akan semakian kuat. Sedangkan makin jarang
hubungan stimulus respon dipergunakan maka makin lemahnya hubungan yang
terjadi.
Dalam hukum akibat ini dapat disimpulkan bahwa kepuasan yang
terlahir dari adanya ganjaran dari guru akan memberikan kepuasan bagi anak, dan
anak cenderung untuk berusaha melakukan atau meningkatkan apa yang telah
dicapainya itu. Guru yang memberi senyuman wajar terhadap jawaban anak, akan
semakin menguatkan konsep yang tertanam pada diri anak. Kata-kata “ Bagus”,
“Hebat” , ”Kau sangat teliti” dan semacamnya akan merupakan hadiah bagi anak
yang kelak akan meningkatkan dirinya dalam menguasai pelajaran.
Disamping itu, Thorndike mengutamakan pula bahwa
kualitas dan kuantitas hasil belajar siswa tergantung dari kualitas dan
kuantitas Stimulus-Respon (SR) dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.
Makin banyak dan makin baik kualitas S-R itu (yang diberikan guru) makin banyak
dan makin baik pula hasil belajar siswa.
Implikasi dari aliran pengaitan ini dalam kegiatan belajar
mengajar sehari-hari adalah bahwa:
1.
Dalam
menjelaskan suatu konsep tertentu, guru sebaiknya mengambil contoh yang sekiranya
sudah sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Alat peraga dari alam
sekitar akan lebih dihayati.
2.
Metode
pemberian tugas, metode latihan (drill dan practicc) akan lebih cocok. Karna
siswa akan lebih banyak mendapatkan stimulus sehingga respons yang diberikan
pun akan lebih banyak.
3.
Dalam
kurikulum, materi disusun dari materi yang mudah, sedang, dan sukar sesuai
dengan tingkat kelas dan tingkat sekolah. Penguasaan materi yang lebih mudah
sebagai akibat untuk dapat menguasai materi yang lebih sukar.
B. Teori Skinner
Dalam bagian ini akan diuraikan teori belajar menurut
skinner. Burhus Frederic Skinner menyatakan bahwa ganjaran atau penguatan
mempunyai peranan yang amat penting dalam proses belajar. Penguatan dapat
dianggap sebagai stimulus positif, jika penguatan tersebut seiring dengan
meningkatnya perilaku anak dalam melakukan pengulangan perilakunya itu. Untuk
mengubah tingkah laku anak dari negatif menjadi positif, guru perlu mengetahui
psikologi yang dapat digunakan untuk memperkirakan dan mengendalikan tingkah
laku anak.
Skinner menambahkan bahwa jika respon siswa baik ( menunjang
efektivitas pencapaian tujuan) harus segera diberikan penguatan positif agar
respon tersebut lebih baik lagi, atau minimal perbuatan baik itu dipertahankan.
C. Teori Ausubel
Teori ini terkenal dengan belajar bermaknanya dan pentingnya
pengulangan sebelum belajar dimulai. Ia membedakan belajar menemukan dengan
belajar menerima, jadi tinggal menghafalnya. Tetapi pada belajar menemukan
konsep ditemukan oleh siswa, jadi tidak menerima pelajaran begitu saja. Selain
itu untuk dapat membedakan antara belajar menghafal dengan belajar bermakna.
Pada belajar menghafal, siswa menghafal materi yang sudah
diterimanya, tetapi pada belajar bermakna materi yang diperoleh itu
dikembangkan dengan keadaan lain sehingga belajar lebih dimengerti. Selanjutnya
bahwa Ausubel mengemukan bahwa metode ekspositori adalah metode mengajar yang
baik dan bermakna. Hal ini dikemukan berdasarkan hasil penelitiannya. Belajar
menerima maupun menemukan sama-sama dapat berupa belajar menghafal atau
bermakna.
Misalnya dalam mempelajari konsep Pitagoras tentang segitiga
siku-siku, mungkin bentuk akhir c2= b2+a2
sudah disajikan, tetapi jika siswa memahami rumus itu selalu dikaitkan dengan
sisi-sisi sebuah segitiga siku-siku akan lebih bermakna.
D. Teori Gagne
Menurut Gagne dalam belajar matematika ada dua objek yang
dapat diperoleh langsung oleh siswa, yaitu objek langsung dan objek tidak
langsung. Objek tak langsung antara lain kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah,
belajar mandiri, bersikap positif terhadap matematika dan tahu bagaimana
semestinya belajar. Sedangkan objek lansung berupa fakta, keterampilan, konsep,
dan aturan.
Fakta adalah objek matematika yang tinggal menerimanya,
seperti lambang bilangan, sudut, dan notasi-notasi matematika lainnya.
Kemampuan berupa memberikan jawaban dengan tepat dan cepat,misalnya melakukan
pembagian bilangan yang cukup besar dengan bagi kurang,menjumlahkan
pecahan,melukis sumbu sebuah ruas garis.
Konsep adalah ilmu abstrak yang memungkinkan kita dapat
mengelompokkan objek ke dalam contoh dan noncontoh misalkan konsep, bujur
sangkar, bilangan prima, himpunan, dan fektor.
Aturan adalah objek yang paling abstrak yang berupa sifat
dan teorema. Menurut Gagne, belajar dapat dikelompokkan menjadi delapan titik
belajar yaitu: belajar isyarat , stimulus respon, rangkaian gerak, rangkaian
verbal, membedakan, pembentukan konsep, pembentukan aturan, dan pemecahan
masalah.
Dalam pemecahan masalah biasanya ada 5 langkah yang harus
dilakukan. Yaitu :
1.
Menyajikan
masalah dalam bentuk yang lebih jelas.
2.
Menyatakan
masalah dalam bentuk yang lebih operasional.
3.
Menyusun
hipotesis hipotesis alternattif dan prosedur kerja yang diperkirakan baik.
4.
Mengetes
hipotesis dan melakukan kerja untuk memperoleh hasilnya.
5.
Mengecek
kembali hasil yang sudah diperoleh.
E. Teori Pavlov
Pavlof terkenal dengan teori belajar klasik. Ia melakukan
percobaan terhadap seekor anjing, anjing itu dikurung dalam suatu kandang dalam
waktu tertentu dan diberi makan. Selanjutnya, setiap akan diberi makan Pavlov
membunyikan bel, ia memperhatikan bahwa setiap dibunyikan berl pada waktu
tertentu anjing itu mangeluarkan air liurnya, walaupun tidak diberi makanan.
Pavlov mengemukakan konsep pembiasaan atau conditioning.
Dalalm hubugannya dalam kegiatan belajar mengajar agar siswa belajar dengan
baik maka harus dibiasakan. Misalnya, agar siswa mengerjakan soal peekerjaan
rumah dengan baik, biasakanlah dengan memeriksanya, menjelaskannya, atau
memberi nilai terhadap hasil pekerjaannya.
F. Teori Baruda
Baruda mengemukakan bahwa siswa belajar itu melalui meniru.
Pengertian meniru di sini bukan berarti menyontek, tetapi meniru hal-hal yang
dilakukan oleh orang lain, terutama guru. Jika tulisan guru baik, guru
berbicara sopan santun, tingkah laku yang terpuji, menerangkan dengan jelas dan
sistematis, maka siswa akan menirunya. Jika contoh yang dilihat kurang
baik maka ia pun akan menirunya.
F. Aliran Latihan Mental
Aliran ini berkembang sampai dengan abad 20, yang
mengemukakan bahwa struktur otak manusia terdiri atas gumpalan-gumapalan otot,
agar ini kuat, maka harus dilatih dengan beban, makin banyak latihan dan beban
yang makin berat,maka otot atau otak itu makin kuat pula, oleh karna itu jika
anak atau siswa ingin pandai, maka ia harus dilatih otaknya dengan cara banyak
berlatih memahamidan mengerjakan soal-soal yang benar, makin sukar materi itu
makin pandai pula anak tersebut.
Struktur kurikulum pada masa itu berisikan materi-materi
pelajaran yang sulit, sehingga orang sedikit yang bersekolah karna tidak kuat
untuk mengikutinya. Disamping faktor lain seperti keturunan, biaya, dan kesadaran
akan pentingya sekolah.
10. Jelaskan Kompetensi standar yang
harus dimiliki oleh seorang guru matematika, baik pedagogik, profesi, sosial,
dan pribadi!
Jawaban:
Secara
umum seorang guru harus memenuhi dua kategori, yaitu memiliki capability dan
loyality. Capability, yakni guru harus memiliki kemampuan dalam bidang ilmu
yang diajarkannya, memiliki kemampuan teoritik tentang mengajar yang balk;
mulai perencanaan, implementasi sampai evaluasi. Loyalitas keguruan, yakni
loyal terhadap tugas-tugas keguruan, tidak semata di dalam kelas, tapi juga di
luar kelas.
Kompetensi
Standar Guru:
1. Kompetensi Pedagogik
Pedagogik mempunyai arti ilmu mendidik. Kompetensi pedagogik merupakan suatu performansi (kemampuan) seseorang dalam bidang ilmu pendidikan. Untuk menjadi guru yang profesional harus memiliki kompetensi pedagogik. Seorang guru harus memiliki pengetahuan dan pemahaman serta kemampuan dan keterampilan pada bidang profesi kependidikan. Menurut Depdiknas (2002:27) pengetahuan dan pemahaman yang harus dimiliki seorang guru sebagai profesi kependidikan meliputi hal: a) peserta didik, b) teori belajar dan pembelajaran, c) kurikulum dan perencanaan pengajaran, d) budaya dan masyarakat sekitar sekolah, e) filsafat dan teori pendidikan, f) evaluasi, g) teknik dasar dalam mengembangkan proses belajar, h) teknologi dan pemanfaatannya dalam pendidikan, i) penelitian, j) moral, etika dan kaidah profesi.
Menurut Valente, Dalam Matondang (2008:9), menjelaskan bahwa kompetensi pedagogik merupakan salah satu kompetensi yang sangat penting. Kemudian dikemukakan bahwa: This kind of competency is the main problem related to the didacted and methodology used in classroom teaching. Kompetensi pedagogik meliputi pemahaman tentang: (a) sifat dan ciri anak didik serta perkembangannya, (b) konsep-konsep pendidikan yang berguna membantu anak didik, (c) motodologi pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak didik, dan (d) sistem evaluasi yang baik dan tepat. Pada bidang pedagogik, seorang guru harus memiliki kompetensi: a) mampu mengidentifikasi dan memahami karakteristik peserta didik dari aspek sosial, moral, kultural, emosional dan intelektual, b) mampu memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya, c) menguasai teori belajar dan prinsipprinsip pembelajaran yang mendidik, d) mampu merancang pembelajaran yang mendidik, e) mampu melaksanakan pembelajaran yang mendidik, f) mampu merancang penilaian proses dan hasil belajar, g) mampu melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar, dan h) mampu menggunakan hasil penilaian untuk berbagai kepentingan pembelajaran dan pendidikan.
2. Kompetensi Kepribadian
Kepribadian merupakan suatu masalah yang abstrak, hanya dapat dilihat lewat penampilan, tindakan, ucapan, dan cara berpakaian seseorang. Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda. Kompetensi kepribadian merupakan suatu performansi pribadi (sifat-sifat) yang harus dimiliki seorang guru. Kompetensi kepribadian bagi guru adalah pribadi guru yang terintegrasi dengan penampilan kedewasaan yang layak diteladani, memiliki sikap dan kemampuan memimpin yang demokratis serta mengayomi peserta didik. Jadi seorang guru harus memiliki kepribadian yang: a) mantap, b) stabil, c) dewasa, d) arif, e) berwibawa, f) berakhlak mulia, dan g) dapat menjadi tauladan (Mulyasa, 2007:118).
Literatur psikologi kepribadian, umumnya mengelompokkan kepribadian atas 5 domain yang dikenal dengan Big Five Personality, masing-masing: extraversion, agreeableness, conscientiousness, neuoriticism, openness to experiences. Menurut Ryckman (2008: 640:642) ads 5 faktor yang mencerminkan kepribadian manusia yaitu: surgency, agreeableness, conscientiousness, emotional stability, and intellect.
Berdasarkan kompetensi kepribadian tersebut, seorang guru harus:a) mampu bertindak secara konsiten sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia, b) mampu menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, c) mampu menampilkan diri sebagai pribadi yang berakhlak mulia sebagai tauladan bagi peserta didik dan masyarakat, d) mempunyai rasa bangga menjadi guru, dapat bekerja mamdiri, mempunyai etos kerja, rasa percaya diri dan tanggung jawab yang tinggi, e) berprilaku jujur dan disegani, f) mampu mengevaluasi diri dan kinerja secara terus menerus, g) mampu mengembangkan diri secara berkelanjutan dengan belajar dari berbagai sumber ilmu dan h) menjunjung tinggi kode etik profesi guru.
3. Kompetensi Sosial
Pakar psikologi pendidikan menyebut kompetensi sosial itu sebagai social intellegence atau kecerdasan sosial. Kecerdasan sosial merupakan salah satu dari sembilan kecerdasan (logika, bahasa, musik, raga, ruang, pribadi, alam, dan kuliner). Semua kecerdasan itu dimiliki oleh seseorang, hanya mungkin beberapa diantaranya menonjol dan yang lain biasa saja atau kurang. Uniknya beberapa kecerdasan tersebut bekerja secara terpadu dan simultan ketika seseorang berpikir dan atau mengerjakan sesuatu.
Menurut Ramly (2006:87) guru merupakan suatu cermin. Guru sebagai cermin memberikan gambaran (pantulan diri) bagaimana dia memandang dirinya, masa depannya, dan profesi yang ditekuninya. Berdasarkan uraian tersebut, yang dimaksud dengan kompetensi sosial merupakan suatu kemampuan seorang guru dalam hal berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan: a) peserta didik, b) sesama pendidik, c) tenaga kependidikan, d) orang tua/wali peserta didik dan e) masyarakat sekitar (Depdiknas, 2003:27). Jadi seorang guru harus: a) mampu berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik, b) mampu berkomunikasi secara efektif, empatik dan santu dengan sesama pendidik dan tenaga kependidikan, c) mampu berkomunikasi secara efektif, empatif dan santun dengan orang tua peserta didik dan masyarakat, d) bersikap kooperatif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga dan status sosial ekonomi, dan e) mampu beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keberagaman sosial budaya.
4. Kompetensi Profesional
Kompetensi professional merupakan suatu kemampuan sesuai dengan keahliannya. Seorang guru harus menyampaikan sesuatu (sesuai keahliannya) kepada peserta didik dalam rangka menjalankan tugas dan profesinya. Kanfel (2005:337) mengemukakan bahwa kompetensi di tempat kerja merupakan perpaduan antara performans maksimum dan tipikal perilaku seseorang. Seorang guru harus memiliki kompetensi professional dalam bidang keahliannya.
Seorang guru memiliki kompetensi profesional bila guru tersebut memiliki pengetahuan dan pemahaman dasar di bidangnya. Adapun beberapa disiplin ilmu dasar yang harus diketahui dan dipahami oleh seorang guru meliputi : a) penguasaan bidang studi (materi) pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkikannya membimbing peserta didik memenuhi kompetensi yang ditetapkan dalam standar nasional pendidikan, dan b) memilih, mengembangkan kurikulum dan atau silabus sesuai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran yang diampu.
Dari pengetahuan dan kemampuan tersebut, maka kompetensi profesional guru dapat dikategorikan atas: a) memahami standar kompetensi dan kompetensi dasar bidang keahliannya, b) mampu memilih dan mengembangkan materi pelajaran, c) menguasai materi, struktur, dan konsep pola pikir keilmuan yang mendukung bidang keahlian , d) menguasai metode untuk melakukan pengembangan ilmu dan telaah kritis terkait dengan bidang keahlian, e) kreatif dan inovatif dalam penerapan bidang ilmu yang terkait dengan bidang keahlian, f) mampu mengembangkan kurikulum dan silabus yang terkait dengan bidang keahlian, g)mampu melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran, h) mampu berkomunikasi dengan komunitas profsi sendiri dan profesi lain secara lisan maupun tulisan, i) mampu memanfaatkan teknologi informasi dan pembelajaran, berkominikasi dan mengembangkan diri sebagai seorang guru.
1.
Jelaskan tujuan pendidikan yang pertama kali
dikenalkan oleh Benjamin. S. Bloom serta proses kognitif yang diperkenalkannya!
Jawaban:
Tujuan
pendidikan dibagi ke dalam tiga domain, yaitu:
1.
Cognitive Domain
(Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual,
seperti pengetahuan,
pengertian, dan keterampilan berpikir. Terbagi menjadi : A) Pengetahuan
(Knowledge), Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan,
definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dsb.
B) Aplikasi (Application). Di
tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur,
metode, rumus, teori, dsb di dalam kondisi kerja. C) Analisis
(Analysis). Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisa informasi
yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang
lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta
membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yg rumit. D) Sintesis
(Synthesis). Satu tingkat di atas analisa, seseorang di tingkat sintesa akan
mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak
terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk
menghasilkan solusi yg dibutuhkan. E) Evaluasi (Evaluation). Dikenali dari
kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dsb
dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yg ada untuk memastikan
nilai efektivitas atau manfaatnya. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang
manajer kualitas harus mampu menilai alternatif solusi yg sesuai untuk
dijalankan berdasarkan efektivitas, urgensi, nilai manfaat, nilai ekonomis,
dsb.
2.
Affective Domain (Ranah Afektif) berisi
perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara
penyesuaian diri.
3.
Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi
perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan
tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.
8.
Pada
sebuah sekolah kelas VII SMP dengan siswa berjumlah 30 siswa akan diajarkan
tentang konsep perbandingan yang berkaitan dengan skala, jarak dan kecepatan.
Sebutkan dan jelaskan metode pembelajaran yang cocok dipakai dalam kelas ini,
sebutkan dan jelaskan model pembelajaran yang menarik dipakai pada kelas ini,
buatlah langkah-langkah pembelajaran yang mungkin dilakukan!
Jawaban:
Menurut pendapat saya, model
pembelajaran yang menarik dipakai pada kelas ini adalah Group investigation.
Langkah-langkah :
1.
Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok
heterogen
2.
Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas
kelompok
3.
Guru memanggil ketua-ketua untuk satu materi tugas
sehingga satu kelompok mendapat tugas satu materi/tugas yang berbeda dari
kelompok lain
4.
Masing-masing kelompok membahas materi yang sudah
ada secara kooperatif berisi penemuan
5.
Setelah selesai diskusi, lewat juru bicara, ketua
menyampaikan hasil pembahasan kelompok
6.
Guru memberikan penjelasan singkat sekaligus
memberi kesimpulan
7.
Evaluasi
8.
Penutup
Tidak ada komentar:
Posting Komentar