Ketika sebuah konsep informasi matematika diberikan oleh seorang guru kepada siswa ataupun
siswa mendapatkannya sendiri melalui bacaan, maka saat itu sedang
terjadi transformasi informasi matematika dari komunikator kepada komunikan. Respon yang diberikan komunikan merupakan interpretasi komunikan tentang informasi tadi. Dalam matematika, kualitas interpretasi dan respon itu seringkali menjadi masalah istimewa. Hal ini sebagai salah satu akibat dari karakteristik matematika itu sendiri yang sarat dengan istilah dan simbol. Karena itu, kemampuan berkomunikasi dalam matematika menjadi tuntutan khusus. Kemampuan berkomunikasi dalam matematika merupakan kemampuan yang dapat menyertakan dan memuat berbagai kesempatan untuk berkomunikasi dalam bentuk:
Secara umum, matematika dalam ruang lingkup komunikasi mencakup keterampilan/kemampuan menulis, membaca, discussing and assessing, dan wacana (discourse). Peressini
dan Bassett (dalam NCTM,1966) berpendapat bahwa tanpa komunikasi dalam
matematika kita akan memiliki sedikit keterangan, data, dan fakta
tentang pemahaman siswa dalam melakukan proses dan aplikasi matematika. Ini berarti, komunikasi dalam matematika menolong guru memahami kemampuan sisiwa dalam menginterpretasi dan mengekspresikan pemahamannya tentang konsep dan proses matematika yang mereka pelajari Dalam bagian lain, Lindquist (NCTM, 1996) berpendapat,
Jika
kita sepakat bahwa matematika itu merupakan suatu bahasa dan bahasa
tersebut sebagai bahasan terbaik dalam komunitasnya, maka mudah dipahami
bahwa komunikasi merupakan esensi dari mengajar, belajar, dan meng-assess matematika.
Jadi
jelaslah bahwa komunikasi dalam matematika merupakan kemampuan mendasar
yang harus dimiliki pelaku dan pengguna matematika selam belajar,
mengajar, dan meng-assess matematika.
Jika demikian adanya, bagaimanakah meng-assess komunikasi dalam matematika? Menurut Cai,
J., Lane, S., dan Jakbcsin, M.S. (dalam NCTM, 1996) salah satu model
yang pernah berkembang untuk mengevaluasi kemampuan komunikasi
matematika siswa adalah seperti yang dicontohkan QCAI (QUASAR Cognitive
Assessment Instrument). QUASAR adalah suatu proyek nasional di Amerika yang didesain untuk mengembangkan pembelajaran matematika bagi siswa di sekolah menengah. Model ini dinamakan Open-Ended Tasks. Di dalamnya berupa format evaluasi dalam bentuk pertanyaan open-ended, yaitu suatu pertanyaan yang memberi keleluasaan pada siswa untuk menjawab secara benar dengan kemungkinan alasan atau cara menjawab yang beragam. Caranya, siswa diberi pertanyaan opend-ended dan siswa harus menjelaskan jawabnya. Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, menurut Peressini dan Bassett (dalam NCTM, 1996) lebih memberi kesempatan dan pengalaman belajar, serta masalah komunikasi yang dimiliki siswa.
Setelah jawaban siswa diperoleh melalui format open-ended, berikutnya jawaban-jawaban itu dianalisis dan diberi skor dengan menggunakan panduan yang disebut Holistic Scoring Rubrics, yaitu suatu prosedur yang digunakan untuk menskor respon siswa dari open ended tasks. Skor ini diberi level 0,1,2,3, dan 4. Setiap skor yang diraih siswa mencerminkan
kemampuan siswa dalam merespons persoalan yang diberikan dengan
mempertimbangkan aspek-aspek: pengetahuan matematika (mathematical knowledge), strategi pengetahuan (strategis knowledge) dan komunikasi ( communication).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar